top of page
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Instagram

Jadi, Tidak Ada Kata Mundur

35 menit..


Ya 35 menit adalah waktu yang saya tempuh ketika pertama kali mengikuti lomba lari 5 kilometer beberapa hari lalu. Mungkin buat sebagian orang, waktu itu sudah termasuk lama namun bagi saya pribadi itu adalah sebuah rekor dan pencapaian. 



Saya memiliki banyak teman dan kenalan yang mundur dari tujuan mereka karena rasa takut yang terlalu besar. Saya juga pernah mengajar beberapa peserta didik yang sudah menyerah sebelum perang. Tidak ada yang bisa saya salahkan kepada mereka, saya hanya bisa menilai bahwa ada sesuatu yang tidak tepat dalam diri mereka. Ketidaktepatan itu menurut saya terletak pada sebuah keyakinan dan motivasi yang kurang kuat.



Banyak yang saya temui hanya memiliki motivasi di awal. Ketika langkah demi langkah sudah terasa berat motivasi tersebut perlahan tertinggal. Seperti halnya sebuah buku lama yang berdebu.



Ketika sebuah tujuan telah ditentukan, hal berikutnya adalah percaya. Percaya bahwa kita mampu mencapai tujuan itu dan kita lah yang layak mencapainya. Jika kita percaya dengan hal itu maka akan ada sebuah dorongan yang mampu memberikan kita  semangat melangkah. Sebuah dorongan untuk terus mempertahankan memontum biar tetap berirama hingga mencapai finish.  Seperti halnya sebuah lagu yang berirama dan bertempo demikianlah proses kita mencapai tujuan kita. 



​​​Bukan seberapa cepat saya menginjak finis melainkan bagaimana saya mampu bertahan dan memaksimalkan usaha saya menyentuh garis finis. Berbagai perasaan menghantui saya semalam sebelum pertandingan tersebut. Rasa takut cidera, rasa gugup, rasa tidak percaya diri, keinginan untuk menang - walau nampak sangat mustahil - dan berbagai perasaan lain menemani istirahat saya malam itu.



Ketika hari pertandingan tiba ratusan peserta bersiap sepanjang jalan bebas kendaraan tersebut. Papan waktu telah menunjukkan dirinya. Waktu pun telah dihitung mundur. Ratusan peserta bersorak saling menyemangati. Namun  beberapa meter ke depan, semua peserta berdiri sendiri, berusaha memberikan yang terbaik. Baik itu para pelari profesional maupun pelari amatir seperti saya. Semua berusaha semaksimalnya saling beradu cepat. 



Bagi saya yang tidak terbiasa lari, lima ratus meter pertama saya sudah hampir kehilangan nafas. Lima ratus meter pertama saya sudah hampir ingin berjalan. Namun, sebuah dorongan dalam diri terus berkata untuk terus maju, apapun yang terjadi. Dorongan dalam diri itu lah yang kita semua sepakat bernama motivasi. Motivasi saya saat itu sudah bukan memikirkan bagaimana saya menang namun saya harus melakukan yang terbaik. Target telah saya tentukan yaitu mencapai finis kurang dari 40 menit. Semua persiapan - yang entunya sangat minim- telah saya lakukan bahkan saya sudah berlari hampir 1 kilometer. Jadi, tidak ada kata mundur.



Masa-masa yang cukup berat adalah ketika memasuki setengah perjalanan. Kerongkongan sudah mulai terasa kering, kaki-kaki sudah mulai tidak bersemangat. Hanya iringan lagu yang saya putar yang terus bersenandung menyemangati. Pria wanita, tua muda bergantian melewati saya. Akhirnya keputusan saya ambil. Mengurangi kecepatan sambil menarik nafas panjang. Ya, saya melambatkan memontum saya guna mengumpulkan tenaga lebih. Tiga menit kemudian saya kembali melesat. Tujuan saya ada di depan. Jadi, tidak ada kata mundur.



Banyak hal menarik yang saya pelajari ketika saya berlari. Di setiap kilometer, panitia memberikan petunjuk jarak yang di bawahnya terdapat kata-kata yang memberikan semangat. Ya, hal-hal tersebut yang memberikan kekuatan lebih untuk tetap berlari. Hal-hal yang mengingaktkan saya untuk berusaha melewati batas diri saya. Hingga akhirnya saya mencapai garis finish kurang dari 40 menit. Tentunya dengan beberapa kali melambatkan kecepatan lari guna menghimpun nafas.



Sebuah kebanggaan besar saya rasakan saat itu, walau saya tidak menjuarai pertandingan tersebut. Kebanggaan bahwa saya mampu memberikan yang terbaik dan melampaui batas saya. Batas yang paling berat untuk dilampaui bukan batas fisik namun batas mentalitas. Batas dalam diri yang terkadang memaksa kita untuk menyerah, memaksa kita untuk menunda, memaksa kita untuk berhenti. 



​Saya memiliki banyak teman dan kenalan yang mundur dari tujuan mereka karena rasa takut yang terlalu besar. Saya juga pernah mengajar beberapa peserta didik yang sudah menyerah sebelum perang. Tidak ada yang bisa saya salahkan kepada mereka, saya hanya bisa menilai bahwa ada sesuatu yang tidak tepat dalam diri mereka. Ketidaktepatan itu menurut saya terletak pada sebuah keyakinan dan motivasi yang kurang kuat.


Banyak yang saya temui hanya memiliki motivasi di awal. Ketika langkah demi langkah sudah terasa berat motivasi tersebut perlahan tertinggal. Seperti halnya sebuah buku lama yang berdebu.



Ketika sebuah tujuan telah ditentukan, hal berikutnya adalah percaya. Percaya bahwa kita mampu mencapai tujuan itu dan kita lah yang layak mencapainya. Jika kita percaya dengan hal itu maka akan ada sebuah dorongan yang mampu memberikan kita  semangat melangkah. Sebuah dorongan untuk terus mempertahankan memontum biar tetap berirama hingga mencapai finish.  Seperti halnya sebuah lagu yang berirama dan bertempo demikianlah proses kita mencapai tujuan kita. 



Setiap langkah yang kita lalui, mendekatkan kita dengan tujuan kita.


Artikel ini sudah diunggah pada tanggal 28 Mei 2018

 
 
 

Comments


bottom of page