top of page
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Instagram

Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?



“ The most beautiful feeling in the world is to see your parents happy and knowing you are the reason behind that happiness.”


Kutipan di atas adalah salah satu kutipan yang selalu saya renungkan setiap saat. Pencapaian kita dalam pendidikan, karir, keluarga atau apapun juga tak lepas dari kebahagiaan orang tua kita. Sejujurnya saya sedikit kecewa karena tidak mendapatkan kesempatan merasakan figur seorang ayah dari saya kanak-kanak, namun di sisi lain saya belajar untuk lebih mandiri, belajar untuk lebih berani, belajar untuk lebih dewasa. Kekecewaan terbesar saya adalah ketika saya tidak memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk membuat Ibu saya tersenyum bahagia. Namun saya percaya bahwa apa yang saya lakukan haruslah tetap membanggakan Beliau. 

Saya teringat sebuah berita beberapa waktu lalu tentang anak seorang penarik becak yang lulus wisuda strata satu dengan hasil yang sangat memuaskan. Ketika saya membaca berita itu saya merasakan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan ketika seorang Bapak yang tersenyum bahagia sambil mengayuh becak mengantarkan sang anak ke tempat wisuda berlangsung. Jika seandainya ayah saya mendapatkan kesempatan melihat saya wisuda mungkin Beliau akan sama-sama tersenyum seperti itu.



Saat ini, ketika saya dapat dikatakan sebagai seorang anak yatim piatu, saya semakin sadar bahwa tidak ada yang bisa kita berikan kepada orang tua kita. Materi, uang, kekayaan, kenyamanan hingga berbagai fasilitas mewah pun tidak sebanding dengan jasa dan kebaikan orang tua kita merawat dan mendidik kita. Kita juga tidak dapat mengatahui apa yang akan terjadi pada masa depan, kita hanya mampu mengetahui bahwa usia orang tua kita mungkin saja tidak sepanjang kesibukan kita.



Seandainya saya dapat memutar waktu kembali ke beberapa tahun yang lalu, akan ada banyak hal yang ingin saya berikan kepada Ibu saya. Untuk teman-teman yang masih memiliki Ayah dan Ibu, sayangilah mereka, berikan kebanggan untuk mereka, luangkan waktu untuk mereka. Terkadang kami – para anak – kurang menyadari bahwa orang tua kami mendidik kami dengan keras di sela-sela kesibukan para orang tua agar kelak kami bisa lebih baik dari orang tua kami. Saya banyak mendengar cerita dari teman-teman atau dari peserta didik saya maupun dari orang tua yang saya temui bahwa ada anak yang belajar dengan tidak semangat, tidak memiliki motivasi dan tujuan hidup. Sementara orang tua anak tersebut sangat mati-matian dalam mencari nafkah untuk biaya pendidikan sang anak.



Saya berterima kasih kepada para orang tua yang selalu memberikan perhatian dan dukungan kepada anak-anaknya dalam mengejar ilmu setinggi-tingginya.


Terima kasih atas didikan, cinta dan kasih yang kalian berikan kepada kami. Tidak ada yang lebih indah dari sebuah senyum yang terulas dari wajah ayah dan ibu.



Jadi, sudahkan kita semua membanggkan kedua orang tua kita (terlepas apapun yang telah mereka lakukan)?


Sekarang lah saatnya memberikan ucapan terimakasih kepadanya dengan menjadi seorang yang berarti.


Semangatlah wahai kawan..


telah diunggah ulang setelah tanggal 1 September 2017

 
 
 

Comments


bottom of page