top of page
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Instagram

Sebelum Menilai Anak, Mungkin Kita Perlu Bertanya: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Sep 14
4 min read

Refleksi tentang disleksia, bullying, PISA 2025, dan bagaimana kita memahami anak dalam pendidikan.

Hari ini saya membaca beberapa berita yang membuat saya berhenti cukup lama.

Kompas menulis beberapa artikel tentang anak dengan disleksia, mulai dari bagaimana disleksia sering disalahpahami sebagai kemalasan, perjalanan anak disleksia di Indonesia yang tidak selalu mudah, hingga perkiraan jutaan anak yang mungkin mengalami disleksia tanpa teridentifikasi.


Di waktu yang hampir bersamaan, muncul pula berita tentang PISA 2025 yang menyoroti persoalan bullying di sekolah Indonesia.

Sekilas, kedua isu tersebut berbeda.

Tetapi semakin saya pikirkan, saya melihat ada satu pertanyaan yang menghubungkan keduanya:


Seberapa sering kita terlalu cepat menilai anak, sebelum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi?


Kita melihat perilaku, lalu buru-buru memberi kesimpulan

Anak lambat membaca.

"Kurang latihan."

Anak tidak mengerjakan tugas.

"Malas."

Anak diam di kelas.

"Kurang percaya diri."

Nilainya turun.

"Kurang belajar."


Padahal, perilaku yang kita lihat belum tentu menjelaskan penyebabnya.

Anak yang kesulitan membaca mungkin membutuhkan cara belajar yang berbeda.

Anak yang tiba-tiba tidak fokus mungkin sedang menghadapi sesuatu yang tidak kita ketahui.

Anak yang diam mungkin takut salah. Dan anak yang terlihat tidak memiliki motivasi mungkin sebenarnya sudah terlalu lama merasa bahwa dirinya tidak mampu.

Menurut saya, ini salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan.


Kita sering sangat cepat membaca hasil, tetapi terlalu lambat membaca konteks.


Saya melihatnya juga dalam pekerjaan di sekolah


Mengakomodasi dan memodifikasi pembelajaran untuk membantu anak dengan kebutuhan belajar yang berbeda bukan sesuatu yang sederhana.

Guru perlu memikirkan kembali cara memberikan instruksi.

Tugas mungkin perlu disesuaikan.

Cara anak menunjukkan pemahaman bisa berbeda.

Assessment kadang perlu dipikirkan ulang.

Dan yang paling sulit, semua orang dewasa yang terlibat perlu memiliki pemahaman yang cukup selaras tentang anak tersebut.

Ini bukan pekerjaan satu guru.

Dan menurut saya, bukan pula pekerjaan sekolah saja.

Karena anak tidak meninggalkan kehidupannya ketika masuk ke gerbang sekolah.

Apa yang terjadi di rumah ikut terbawa ke sekolah.

Apa yang terjadi di sekolah juga dibawa pulang.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang membantu anak, kita sebenarnya sedang berbicara tentang ekosistem di sekitar anak.


PISA bukan hanya tentang nilai

Inilah yang membuat berita PISA 2025 menarik bagi saya.

Ketika mendengar PISA, kita biasanya langsung berpikir tentang skor matematika, membaca, sains, ranking, dan posisi Indonesia.

Semua itu penting.

Tetapi ada cerita lain di balik angka tersebut.

Salah satunya adalah bullying.


Kalau seorang anak datang ke sekolah dengan rasa takut, bagaimana kita berharap ia bisa sepenuhnya berkonsentrasi belajar?

Kalau seorang anak takut ditertawakan ketika salah, bagaimana kita berharap ia berani bertanya?

Kalau seorang anak merasa tidak diterima oleh lingkungannya, bagaimana kita berharap ia memiliki rasa ingin tahu yang optimal?


Ini bukan berarti setiap persoalan akademik disebabkan oleh bullying.

Tentu tidak sesederhana itu.

Tetapi pengalaman sosial anak merupakan bagian dari konteks belajar yang tidak bisa kita abaikan.


Anak tidak belajar di ruang hampa.

Ia belajar bersama emosi, relasi, pengalaman, rasa aman, dan persepsinya terhadap lingkungan.


Orang tua juga bagian dari ekosistem itu

Karena itu, salah satu tantangan bagi lembaga pendidikan dan orang tua adalah bagaimana menjalin hubungan antara sekolah dan orang tua.

Bukan hanya sekadar komunikasi:

"Nilainya turun."

"PR belum selesai."

"Anaknya kurang fokus."


Tetapi percakapan yang mencoba memahami anak secara lebih utuh.


Apa yang terjadi belakangan ini?

Bagaimana perasaannya ketika berada di sekolah?

Apa yang membuat belajar menjadi sulit?

Apa yang justru membuatnya bersemangat?

Adakah sesuatu yang tidak terlihat oleh sekolah?

Adakah sesuatu yang tidak terlihat oleh keluarga?

Sekolah memiliki data dan observasi.

Orang tua memiliki konteks kehidupan anak.

Dan anak sendiri memiliki pengalaman yang mungkin tidak diketahui oleh keduanya.

Ketika ketiganya bisa bertemu, kita mendapatkan gambaran yang jauh lebih utuh.

Selayaknya kita sedang mengumpulkan puzzle-puzzle untuk saling melengkapi gambar yang utuh.


Mungkin kita perlu mengubah pertanyaannya

Saya semakin percaya bahwa salah satu perubahan paling sederhana dalam pendidikan adalah mengubah pertanyaan.


Bukan hanya:

"Ada apa dengan anak ini?"

Tetapi:

"Apa yang sedang terjadi pada anak ini?"

Bukan:

"Kenapa dia tidak mau belajar?"

Tetapi:

"Apa yang membuat belajar menjadi sulit baginya?"

Bukan:

"Bagaimana membuat dia seperti anak lain?"

Tetapi:

"Apa yang dia butuhkan agar dapat berkembang secara optimal?"

Perubahan kalimat ini kelihatannya kecil.


Tetapi cara kita memandang anak bisa berubah total karenanya.

Kita mulai mengobservasi sebelum menyimpulkan.

Kita mulai mencari pola sebelum memberi label.

Kita mulai melihat kebutuhan sebelum menentukan intervensi.


Di balik setiap angka, ada seorang anak

Pada akhirnya, PISA memberi kita angka.

Berita tentang disleksia juga memberikan kita angka.

Data tentang bullying memberikan kita angka.


Tetapi di balik semua angka tersebut ada manusia.

Ada anak yang sedang berusaha memahami pelajaran.

Ada anak yang kesulitan membaca tetapi tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Ada anak yang takut datang ke sekolah.

Ada anak yang sebenarnya mampu, tetapi belum menemukan cara belajar yang sesuai.


Ada anak yang hanya membutuhkan satu orang dewasa yang mau berhenti sejenak dan bertanya:

"Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?"

Itulah mengapa saya merasa pendidikan tidak cukup hanya berbicara tentang meningkatkan academic performance.


Kita juga perlu berbicara tentang bagaimana menciptakan kondisi agar anak mampu belajar.

Bukan berarti standar harus diturunkan.

Bukan berarti semua kesulitan harus dimaklumi.

Justru sebaliknya.


Kita tetap memiliki ekspektasi.

Tetapi kita juga perlu memastikan bahwa anak memiliki akses, dukungan, dan lingkungan yang memungkinkan mereka mencapai ekspektasi tersebut.

Karena pada akhirnya, kita tidak sedang mendidik skor PISA.


Kita sedang mendidik manusia.

Dan mungkin, sebelum kita bertanya bagaimana membuat anak menjadi lebih baik, ada satu pertanyaan yang layak kita tanyakan terlebih dahulu:

Apa yang bisa kita perbaiki dari lingkungan di sekitar anak agar ia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk berkembang?

Bagi saya, di situlah pendidikan mulai bergerak dari sekadar menilai anak menjadi memahami anak.


sumber bacaan



 
 
 

Comments


bottom of page